Kawasan Segitiga Jatinegara dan sekitarnya berkembang sejak wilayah ini dibentuk menjadi Kotapraja (Gemente) Meester Cornelis pada tahun 1905. Kawasan ini merupakan pemukiman dan perdagangan pada bagian timur terluar Batavia. Hingga kini karekter pemukiman dan perdagangannya masih bertahan namun secara arsitekturalnya sudah banyak berubah, termasuk segitiga yang bersejarah. Untung masih ada gereja Koinonia yang dibangun tahun 1911-1916 sehingga karakter sejarahnya menjadi agak bertahan.

Pada hari-hari kerja kawasan Segitiga Jatinegara selalu macet karena aktifitas bongkar muat barang, belanja dan kendaraan yanghanya melintas untuk kearah Bekasi dan Bogor. Bahkan pedagang kakilima (PKL) kerap menyita hampir separuh badan jalan mulai dari Lapangan Urip hingga depan Stasiun Jatinegara. Uniknya PKL tersebut berbagi waktu, pagi hari PKL khusus dagangan Loak yang disuplai oleh para pemulung, petang pedagang garmen. Akur.

Segitiga Glodok sebuah Landmark (tetenger) yang amat terkenal sejak abad 18, namun bangunannya sudah beberapa kali berubah. Kondisi segitiga yang sekarang adalah hasil perubahan tahun 1980an. Hampir 100 % berubah tetapi tapaknya tetap, namun tetenger itu sudah kehilangan makna sejarah.

Dua orang Italia kakak beradik, Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa pada tahun 1930 datang Ke Jakarta untuk belajar menjahit, tetapi setelah selesai kursus pergi ke Bandung melihat-lihat peternakan Sapi. Idenya muncul bagaimana memanfaat susu sapi untuk bahan es krim, akhirnya coba-coba dagang dengan membuka stand di Pasar Gambir tahun 1932 (Jakarta Fair ). Ternyata laris. Usaha dagang Es Krim terus dilanjutkan. Pada tahun 1947, kedai Ragusa pindah ke tempat yang sekarang, di Jalan Veteran no.10 Jakarta Pusat (dekat Mesjid Istqlal). Orang Italia ini mengangkat seorang pembantu pria yang bernama Jo Giok Siaw, yang kelak putrinya dinikahi oleh Vincenzo Ragusa. Akhirnya kedai ini menjadi usaha keluarga yang melibatkan keluarga Jo Giok Siaw. Sekarang usaha es krim ini dijalankan oleh Ibu Hajjah Sias Mawarni (mantu Jo Giok Siaw) dan suami. Mudah-mudahan usaha es krim tradisional ini tetap langgeng. .